Mbah Soenilo: "Karangnongko" yang Akan Terus Melegenda



Berbicara soal tokoh-tokoh yang ada di Kamulan, memang tak lengkap rasanya apabila belum mengenal lebih tokoh yang menjadi pembentuk cikal bakal salah satu dusun yang memiliki pekarangan luas penuh dengan buah nangka. Tokoh tersebut menjadi tokoh sentral dalam pengajaran dan penyebaran agama Islam di wilayah Kamulan. Tokoh tersebut adalah Kyai Soenilo, atau yang lebih akrab di kalangan masyarakat Desa Kamukan dengan nama Mbah Soenilo. Bagaimana kisah perjalanannya dalam memberikan efek yang sampai hari ini dirasakan oleh masyarakat Desa Kamulan? Mari kita bahas!

Mbah Soenilo merupakan salah satu tokoh yang berasal dari Bagelen, Jawa Tengah. Dalam perjalanan hidupnya, beliau menghabiskan setengah hidupnya dengan membela dan memperjuangkan Indonesia untuk bisa merdeka dari cengkeraman penjajah. Implementasinya ia laksanakan dengan menjadi serdadu untuk Pangeran Diponegoro di Perang Jawa. Namun, naasnya, peristiwa tertangkapnya Pangeran Diponegoro menjadi momentum yang membuat Mbah Soenilo berpikir untuk mencari tempat yang baru, agar tidak diburu oleh pasukan Belanda. Hingga akhirnya, sekitar abad-18, beliau bersama istrinya mengembara ke arah barat, dan menemukan wilayah Kamulan. Saat itu, ia tinggal di wilayah barat Kamulan. Dalam implementasi hidupnya di Kamulan, ia berusaha semaksimal mungkin memberikan fasilitas yang layak di wilayah tersebut. Beliau benar-benar mengabdi di wilayah tersebut atas dorongan dari agama Islam yang selalu memberikan pesan untuk "Jadilah orang-orang yang bermanfaat bagi khalayak." Contohnya adalah, bagaimana ia bertindak untuk membabat wilayah rumah di sekitarnya untuk dibabat habis dengan dibuatkannya pemukiman, persawahan, serta irigasi yang mengalirkan air tersebut ke persawahan. Proses demi proses akhirnya dijalani, dan membuahkan hasil. Wilayah Kamulan yang awalnya merupakan semak belukar, menjadi wilayah yang aktif memberikan manfaat untuk sekitarnya. Selain hal tersebut, Mbah Soenilo juga menanami wilayah sekitarnya dengan buah-buah nangka. Lama-kelamaan, wilayah tersebut dinamakan "Karangnongko" karena memang banyaknya nangka-nangka yang tumbuh di sekitar wilayah tersebut. 

Selang beberapa lama, beliau wafat. Nama "Karangnongko" yang merupakan wilayahnya diabadikan menjadi nama dusun di Desa Kamulan. Sayangnya, garis keturunan Mbah Soenilo terputus di beliau saja, disamping memang Beliau belum mendapatkan rezeki untuk merawat anak. Beliau meninggalkan banyak cerita untuk Desa Kamulan, dan manfaatnya hingga kini masih bisa dirasakan. Konon, irigasi persawahan yang hingga kini masih dijumpai persawahan di Kamulan dan sekitarnya merupakan kegigihan dan legacy dari Mbah Soenilo.


Comments