Legenda Jaka Semilir: Sang Pendiri Kerajaan Kamulan
Kerajaan Kamulan merupakan kerajaan yang konon pernah mendiami dan berkuasa di daerah sekitaran Desa Kamulan. Berdasarkan cerita turun-temurun yang dikisahkan, Kerajaan tersebut didirikan oleh Jaka Semilir, salah seorang anak dari Raja Kediri, yang nantinya membawa perubahan pada peradaban Kamulan. Lantas, bagaimana kisah Jaka Semilir yang saat itu merupakan putra raja melarikan diri dan membuat peradaban kehidupannya sendiri? Mari kita simak!
Dikisahkan, pada saat itu terjadi perang saudara, antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri. Raden Panji Asmara, yang merupakan Raja Kediri mengangkat salah seorang putranya, yang bernama Jaka Semilir untuk menjadi senopati bagi Kerajaan Kediri. Pada waktu tersebut, Kerajaan Jenggala dipimpin oleh tak lain dan tak bukan merupakan pamannya sendiri. Rasa hatinya menjadi kisruh dan tidak karuan. Dalam kondisi nyata, ia saat ini ditugaskan untuk menjadi ksatria bagi kerajaannya. Di sisi lain, ia harus berhadapan dengan pamannya sendiri. Jelas, rass ksatria tersebut masih ia perhitungkan dalamnya.
Demikianlah, Jaka Semilir menjadi bingung, kesedihan nampak di jiwanya, rasa gundah tak terelakkan mana kala dia harus menghadapi situasi tersebut. Tak ayal, kondisi tersebut diketahui oleh Patih Gimbangkara, dan bertanya pada Jaka Semilir, "Mohon maaf, Ananda. Adakah gerangan yang menyebabkan Ananda selalu bermuram durja?" Mendengar pertanyaan dari patih yang menafsirkan penuh kasih sayang, ia akhirnya mencurahkan semua isi dan beban di pikiran, serta hatinya, "Paman, memang benar menjadi senopati merupakan suatu kebanggaan. Namun, tentu hati nuraniku tidak bisa mengatakan "iya" ketika harus berhadapan dengan paman kandungku sendiri di medan perang. Jika harus berhadapan dengan pamanku sendiri, aku lebih memilih untuk kabur dan mengembara ke tempat yang sangat jauh. Aku tidak mau berperang melawan pamanku, itu keputusanku." Keputusan tersebut disambut baik oleh Patih Gimbangkara. Ia setuju dan meminta izin mengikuti jejak sang Jaka Semilir.
Pada suatu perjalanan, ia dan Patih Gimbangkara, tiba-tiba mendapati pohon besar yang nantinya memberi penunjuk kepada Jaka Semilir dan Patih untuk melanjutkan perjalanannya ke arah tenggara dan membuka perkampungan. Setelah berdiskusi intens, maka mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke arah tenggara, dan membuka perkampungan, sesuai dengan wangsit pohon tersebut. Namun, di tengah perjalanan, mereka bertemu jin, jin tersebut bernama Jayawidarba. Jayawidarba bertanya ke mereka dan alasan mereka langsung membabat hutan tersebut. Jayawidarba langsung berterus terang dengan mengatakan bahwasannya hutan tersebut berada di kekuasaannya, "Kisanak perlu paham, bahwasannya hutan yang kalian babat ini adalah milikku." Namun, ia memberi syarat agar hutan tersebut bisa dimiliki, "Namun, kisanak bisa memperoleh segalanya, apabila Ananda ini (Jaka Semilir) menikahi putri saya yang cantik jelita, bernama Sarioneng." Jaka Semilir pun menyanggupi permintaannya. Pada akhirnya, Jaka diangkat menjadi warga jin Jayawidarba. Selang beberapa waktu, Raja Jayawidarba mundur dari tahta kekuasaan, dan digantikan oleh Jaka Semilir, dengan gelar "Prabu Kusumawicitra"
Dalam perjalanannya, ia berpikir bagaimana bisa membuat kerajaan jin tersebut menjadi kerajaan manusia seutuhnya. Ia pun berinisiatif setiap ada pejabat Jin yang meninggal atau pensiun, maka akan digantikan oleh manusia. Sehingga, lama kelamaan, kerajaan tersebut murni diisi kalangan manusia.

Comments
Post a Comment