MENELUSURI SEJARAH PONDOK TENGAH: JEJAK PENINGGALAN PERADABAN ISLAM DI DESA KAMULAN KABUPATEN TRENGGALEK

Sumber: www.laduni.id


Setelah keraton Sendang Kamulyan dipindahkan ke Galuh, Pekalongan, Jawa Tengah. Kamulan nyaris menjadi daerah yang kosong kembali, meskipun masih ada penduduk yang masih bermukim Kamulan tidak ada penguasa atau pemerintahan secara resmi. Tidak berselang lama di Kamulan datanglah dua tokoh Islam yaitu Kyai Mangun Musthofa dari Madura, dan Kyai Ahmad Yunus dari Kalangbret. Kyai Ahmad Yunus merupakan putra dari Kyai Bagus Mukmin (dikenal dengan Sunan Wilis, dan merupakan Aparatur Kerajaan Mataram) sekaligus menantu dari Sri Susuhunan Amangkurat 4 dari Kerajaan Mataram yang bertahta sekitar 1600-an. Pada waktu itu Mataram menjalin hubungan dengan Belanda serta banyak kebijaksanaan yang kurang sesuai di hati Kyai Ahmad Yunus, akhirnya Beliau terpaksa pergi dari Mataram meninggalkan istri, anak dan kedudukan. Beliau pergi ke arah timur sehingga sampailah Beliau di suatu daerah bekas wilayah Kerajaan Kamulan yaitu tepatnya di Kalangbret. 

            Sedangkan, Kyai Mangun Mustofa adalah tokoh ulama’ yang berasal dari Madura, namun masih belum ada sumber yang valid mengenai siapa beliau dan dimana keberadaannya saat ini. Setelah keduanya (Kyai Mangun Mustofa dan Kyai Ahmad Yunus) menetap di Kamulan, Beliau mendirikan bangunan yang sangat sederhana (tepatnya di lokasi bekas Kerajaan Kamulan) dengan beratapkan ilalang dan hanya menggunakan sabtu aren (ijuk) sebagai pengikat kayu-kayunya. Tempat tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus mengajarkan agama Islam. Lambat laun Kamulan menjadi tempat yang ramai kembali, sebab banyak penduduk sekitar yang datang untuk menuntut ilmu kepada Beliau. 

        Seiring dengan perkembangannya bangunan ini semakin besar dan lengkap, sehingga diyakini bahwa bangunan tersebut merupakan cikal bakal berkembangnya Islam di Desa Kamulan hingga sekarang, tempat tersebut kini dikenal dengan sebutan Pondok Tengah (Pondok Pesantren Hidayatut Thullab). Pada salah satu kayu bangunan Pondok Tengah tersebut terukir angka 1790 M, hal ini bisa dijadikan sebagai tonggak sejarah bahwa Pondok Tengah ini berdiri hampir 3 abad yang lalu.
Selang beberapa tahun kemudian datanglah kepada Beliau seorang yang mengaku sebagai pelarian dari Kerajaan Mataram yang menyamar dengan nama Kyai Dho Ali. Setelah beberapa hari Kyai Dho Ali tinggal bersama Kyai Ahmad Yunus di Kamulan, Kyai Dho Ali menceritakan bahwa sebenarnya dirinya bernama Ali Murtadho dan Kyai Ahmad Yunus merupakan pamannya, Ali Murtadho salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang berkedudukan di Banyumas Jawa Tengah. Beliau melarikan diri ke Kamulan karena Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda pada tahun 1830. Akhirnya beliau diambil sebagai menantu oleh Kyai Ahmad Yunus dan dinikahkan dengan Nyai Basyiroh, serta seluruh kegiatan Pesantren berjalan diatas kepemimpinan Beliau berdua.

        Tidak lama kemudian Kyai Ahmad Yunus dipanggil oleh Allah SWT, maka pucuk pimpinan Pesantren dipegang oleh Kyai Ali Murtadho. Dalam perkembangan selanjutnya Beliau merenovasi bangunan pondok tersebut sekaligus mengembangkannya seiring dengan bertambahnya jumlah santri. Setelah Kyai Ali Murtadho wafat kepemimpinan Pesantren dilanjutkan oleh putra Beliau yang bernama KH. Ihsan. Pada saat itu Pondok Tengah atau Pondok Pesantren Hidayatut Thullab dijadikan markas sementara tentara Hisbullah pada tahun 1948-1949. Akibatnya Pondok Tengah terkena bom serangan tentara sekutu pada 10 November 1948. Salah satu bekas bom tersebut diabadikan sebagai bel penanda masuk atau pulang sekolah para santri.

        Setelah KH. Ihsan wafat, kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh KH. Muhammad Mahmud Ihsan, Beliau merupakan putra dari KH. Ihsan dan dibantu oleh adik iparnya yang bernama Kyai Nafi’i. Pada tanggal 12 Juli 1996 M/ 26 Shofar 1417 H, KH. Muhammad Mahmud Ihsan wafat dan dimakamkan di Makam Girilaya “Kanjengan” Gunung Cilik, dan kepemimpinan Pondok Pesantren diteruskan oleh putranya yaitu KH. Masruhin Mahmud yang didampingi oleh KH. Thoha Munawwar. Pada hari Kamis 7 Januari 2010 M/ 21 Muharram 1431 H, Kyai Nafi’i dipanggil pulang ke Rahmatullah, dan dimakamkan di Makam Girilaya “Kanjengan” Gunung Cilik. Selanjutnya kepemimpinan Pondok Pesantren hingga saat ini dilanjutkan oleh KH. Bahrur Munir (putra menantu KH.M.Mahmud Ihsan) dan Kyai Bahaudin Nafi’i (putra Kyai Nafi’i)

            Pondok Tengah merupakan Pondok yang sangat masyhur, hingga banyak sekali santri yang tidak hanya dari Pulau Jawa melainkan juga dari luar Pulau Jawa. Pondok Tengah (Pondok Pesantren Hidayatut Thullab) Desa Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek juga termasuk dalam Pondok Pesantren tertua di Indonesia. Eksistensi Pondok Tengah hingga saat ini masih menarik banyak minat para orang tua yang ingin memberikan pendidikan religi kepada buah hatinya.

Comments