Sejarah Penamaan Dusun-Dusun Desa Kamulan



Setiap tempat pasti memiliki filosofi tersendiri, terlebih terkait penamaan suatu tempat itu sendiri. Hal itulah yang nampak pada Desa Kamulan, yang terletak di Kec. Durenan, Kab. Trenggalek. Desa ini sendiri memiliki empat dusun yang tersebar luas, meliputi Dusun Karangnongko, Dusun Guyang Gajah, Dusun Widoyoko, Dusun Sendang Kamulyan. Menurut sejarah, serta cerita turun-temurun yang berkembang di tengah masyarakat Desa Kamulan, setiap dusun memiliki ceritanya sendiri terkait penamaan dusun-dusun tersebut. Penamaan tersebut sendiri tak lepas dari khas-Nya Desa Kamulan yang merupakan salah satu desa bersejarah di Kabupaten Trenggalek.

Lantas, apa saja latar belakang penamaan dusun-dusun tersebut? Mari pegangan erat, dan belajar bersama!


Dusun Karangnongko 

Dikisahkan, pada abad ke-18, wilayah Kamulan kedatangan seorang perantau dari Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah yang bernama Mbah Soenilo, beserta istrinya. Beliau merupakan salah satu tokoh agama Islam, sekaligus salah satu dari pasukan Pangeran Diponegoro, yang meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari pemukiman baru. Inisiatif Mbah Soenilo sendiri dilatarbelakangi karena Pangeran Diponegoro yang tertangkap oleh tentara Belanda. Sesampainya di Kamulan, beliau bermukim di wilayah barat Desa Kamulan. Tempat tersebut menjadi tempat tinggal bersama dengan istrinya. Pada saat itu, tempat sekitar kediaman Mbah Soenilo masih berupa belantara/semak belukar. Dengan semangat juangnya, beliau membabat tempat tersebut untuk dijadikan tempat pemukiman sekaligus membuka juga lahan persawahan. Dalam kurun waktu yang cukup lama, Mbah Soenilo akhirnya berhasil merubah wilayah tersebut, yang semula semak belukar, menjadi persawahan. Untuk mengairi wilayah persawahan tersebut, Mbah Soenilo membuat sungai baru dengan cara mengalirkan aliran sunga, yang semula mengarah ke arah timur, diubah dengan membuat saluran baru ke arah selatan menuju persawahannya. Atas kegigihan Mbah Soenilo, wilayah tersebut menjadi daerah yang subur. Oleh karena itu, Mbah Soenilo akhirnya menyumbangkan sebagian hasil dari persawahan tersebut untuk kepentingan bersama Masyarakat Kamulan.


Disamping membuka persawahan, Mbah Soenilo juga menanami pekarangan sekitar sawahnya dengan pohon nangka (Jawa: Nongko). Oleh karena itu, semakin lengkaplah kesuburan tanah tersebut, dengan tumbuh suburnya pohon-pohon nangka yang sangat lebat. Semenjak itu, daerah tersebut dikenal dengan nama Karangnongko (Karang: Pekarangan, Nongko: Nangka). Daerah tersebut hingga kini masih terjaga eksistensinya, dan dijadikan salah satu nama dusun di Desa Kamulan, dengan nama Dusun Karangnongko. Mbah Soenilo sendiri juga dimakamkan di daerah Karangnongko, hingga saat ini, makam tersebut terjaga dengan baik. Diyakini, persawahan dan pekarangan yang hingga saat ini masih ada merupakan peninggalan beliau.




Dusun Guyang Gajah

Alkisah, di Kerajaan Kamulan pada saat Prabu Widoyoko bertahta, wilayah Kamulan pernah mendapat serangan wabah penyakit misterius. Berkat usaha dari Begawan Jati Pitutur dan saudaranya, Begawan Pitutur Jati, akhirnya wabah tersebut dapat dimusnahkan. Setelah wabah tersebut dapat diatasi, mereka berdua memberikan energi semacam tumbal (menanam sesuatu yang dipakai untuk menolak bala penyakit dan sebagainya), berupa batu mustika sebanyak dua biji, batu tersebut ditanam di depan dan di belakang keraton. Batu tersebut dinamakan Klanopeng. Selain penanaman batu mustika tersebut, mereka juga memberikan titihan (Bahasa Jawa: Kendaraan) berupa Gajah Putih kepada Prabu Widoyoko. Untuk memelihara Gajah yang diberikan, Prabu Widoyoko membuat tempat khusus yang berada di sebelah utara Keraton. Agar Gajah tersebut tetap segar dan bersih, Gajah tersbut sering dimandikan (Bahasa Jawa: Di Guyang) dan diistirahatkan dibawah pohon besar yang bernama pohon soho. Tenpat tersebut sering disebut dengan Sendang Guyang Gajah. Seiring perkembangan waktu, daerah tersebut diabadikan menjadi salah satu nama dusun di Desa Kamulan, dengan sebutan Guyang Gajah, yang hingga kini masih eksis.



Dusun Widoyoko

Setelah Prabu Widoyoko wafat (tidak diketahui pasti dimana keberadaan tempat perisitirahatan terakhir beliau) selanjutya, tahta kerajaan dilanjutkan oleh putranya, yakni Jaka Kendang. Pada perkembangannya, Jaka Kendang memindahkan pusat pemerintahannya ke Galuh, Pekalongan, Jawa Tengah. Setelah ditinggalkan, daerah Kamulan menjadi daerah yang sepi kembali, dan lambat laun menjadi daerah dengan kehutanan yang lebat. Atas dasar Prabu Widoyoko yang merupakan Raja terakhir Kamulan sebelum dipindahkan ke Galuh, Pekalongan, maka nama raja tersebut diabadikan menjadi salah satu nama dusun di Desa Kamulan, yakni Dusun Widoyoko. Balai Desa Kamulan sendiri berada di Dusun tersebut.





Dusun Sendang Kamulyan

Setelah Prabu Kusuma Wicitra turun tahta, kemudian diangkatlah menantunya, yakni Prabu Anom Ajarwidada untuk menduduki tahta kerajaan dengan gelar Prabu Widoyoko. Diangkatnya Prabu Widoyoko menjadi seorang raja membuat kakeknya, yang bernama Begawan Jati Pitutur dari Gunung Sumbing, dan Begawan Pitutur Jati dari Gunung Merbabu. Kebetulan saja, pada saat itu, wilayah Kamulan sedang terjadi wabah penyakit misterius. Kedua begawan tersebut berusaha mengobati masyarakat yang terserang penyakit misterius tersebut. Kedua Begawam tersebut membuat sebuah Sendang (Penampungan) dengan air yang mengalir. Air tersebut diberi mantra oleh kedua orang tersebut. Sebenarnya, Sendang tersebut telah ada sejak kedatangan Jaka Sumilir (Raja Kamulan pertama) dikisahkan, pada saat itu, Jaka Sumilir mengembara ke tempat yang jauh, akibat pecahnya perang saudara yang menimpanya. Jaka Sumilir pada saat itu menuju sebuah telaga yang di sekitarnya banyak tumbuh pohon gayam. Untuk selanjutnya, Jaka Sumilir bermukim disana, dan tempat tersebut ia babat untuk didirikan sebuah Kerajaan. Lanjut, setelah penyakit tersebut berhasil dimusnahkan lewat sendang tersebut, ketenaran sendang tersebut tersiar kemana-mana, sehingga banyak masyarakat datang untuk mandi ke tempat tersebut, dengan harapan penyakit yang mereka derita dapat segera teratasi. Pada akhirnya, daerah tersebut dinamakan Sendang Kamulyan, dan dikukuhkan menjadi salah satu nama dusun di Desa Kamulan.



 

Comments