Mengenal Lebih Dekat Sejarah Pondok Darisulamanniyah: Pondok Lor
![]() |
| Sumber: Youtube "Pondok Pesantren Darissulaimanniyah" |
Pondok Darisulamanniyah, atau yang lebih dikenal dengan nama Pondok Lor (karena pondok tersebut terletak di utara Desa Kamulan) merupakan sebuah lembaga pendidikan yang masih mempertahankan sistem salafiah, yang artinya sebuah lembaga pendidikan berbasis Islam tersebut dipimpin oleh figur kyai dalam menentukan arah lembaga tersebut, baik kemajuan fisik (sarana dan prasarana) maupun kemajuan non-fisik (rohani). Secara resmi, Pondok Pesantren tersebut dilanjutkan oleh K.H. Nur Khotib pada 11 September 1998, dengan nama "Pondok Pesantren Darisulamanniyah" yang mana K.H. Nur Khotib adalah adik kandung dari pengasuh pondok pesantren Darul Istiqamah. Beliau adalah seorang kyai alim nan masyur sejagat Desa Kamulan pada saat itu. Dalam mengasuh santri di pondok tersebut, beliau dibantu oleh K. Agus Nurrohim, yang merupakan menantu dari K.H. Nur Khotib.
Dahulu, pondok tersebut hanyalah sebuah Mushala kecil yang didirikan oleh K.H. Sulaiman, putra K.H. Husain. K.H. Husain sendiri adalah salah satu dari sekian banyak tokoh sekaligus sahabat perjuangan Pangeran Diponegoro yang berhasil melarikan diri dari kejaran pasukan Pangeran Diponegoro, yang naasnya, Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda tahun 1830.
Di awal pelariannya, K.H. Husain tidak punya tujuan yang, sedari awal, beliau hanya berfokus menyelamatkan diri dari kejaran pasukan Belanda. Akhirnya, sampailah beliau di Desa Kamulan, dimana pada saat itu, wilayah Kamulan masih berupa pemukiman yang belum begitu ramai, tepatnya berada di bekas kerajaan Sendang Kamulyan, yang telah menjadi hutan belukar kembali. Setelah cukup lama menetap disana, beliau menikah dengan putri Kyai Basyarudin (salah satu tokoh agama Islam pada saat itu).
Beralih ke K.H. Sulaiman kembali, beliau semasa muda adalah pengembara yang gemar menuntut ilmu. Beliau pernah menimba ilmu di Josermo, Kediri. Setelah cukup lama K.H Sulaiman menimba ilmu di Kediri, sang bunda mengharapkan beliau untuk kembali ke Kamulan, untuk mengembangkan kemampuan, sekaligus mengimplementasikan ilmu yang didapatkannya selama ini. Setelah negosiasi yang cukup susah, akhirnya beliau menuruti permintaan ibundanya, dan mendirikan Mushala dengan tujuan untuk digunakan sebagai tempat mengembangkan sekaligus mengamalkan ilmunya. Selang beberapa waktu, K.H. Sulaiman sendiri menikah dengan Nyai Ruminah, yang merupakan salah satu cucu dari Sunan Tembayat, seorang auliya yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Semarang. Sesaat setelah itu, beliau ditinggalkan oleh ayahanda serta ibundanya berpulang ke Rahmatullah. Kedua orang yang dicintainya tersebut dimakamkan ke Astana Girilaya (Makam Gunung Cilik). Kehilangan kedua orang tersebut tidak membuat beliau sedih berlarut, beliau terus menegakkan ajaran agama Islam, hingga akhirnya perjuangan tersebut "berhenti" dikarenakan beliau meninggal pada tahun 1941.
Setelah K. H. Sulaiman wafat, perjuangan beliau dilanjutkan oleh putra tertuanya, yakni K.H. Abdurrohim, sekaligus memimpin pondok yang ditinggalkan. Selama memimpin pondok tersebut, K.H. Abdurrohim mendapatkan gejolak api yang sangat besar, sehingga mengakibatkan penurunan yang signifikan terhadap santri di pondok tersebut. Meski demikian, beliau tetap berpegang teguh dan terus menjalankan syariat yang telah ditetapkan.
Setelah keadaan normal, putra sulung K.H. Abdurrohim, yakni K.H Abu Rahmat bertekad mengembalikan dan mengembangkan pondok yang telah lama vakum. Dengan kegigihan dan ilmu yang dia dapatkan, maka berdirilah Pondok Pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Ayem. Di awal era tersebut, makin banyak santri yang berdatangan untk menuntut pendidikan di pondok tersebut. Dengan sinergitas yang terjalin bersama masyarakat sekitar, maka pondok tersebut mampu mendirikan asrama yang digunakan untuk peristirahatan para santri.
Setelah mengalami perkembangan yang sangat pesat, pondok tersebut berubah nama menjadi Pondok Mambaul Ulum, lalu dua tahun berselang diganti menjadi Pondok Pesantren Miftahul Huda. Berkat kegigihannya, beliau berhasil menghidupkan pondok pesantren yang telah lama tertidur. Namun, setelah lama mengabdi di pondok tersebut, K.H. Abu Rahmat mendapat ilham dari Allah SWT untuk menyiarkan agama Islam di daerah Desa Tunggulsari, Tulungagung. Estafet kepemimpinannya diganti oleh pamannya sendiri, yakni Paman Basrah. Namun, belum lama beliau memimpin, beliau telah dipanggil oleh Rahmatullah. Selanjutnta, pondok tersebut dipimpin oleh adik K.H Abu Rahmat, yakni K.H. Masruri dan K.H. Nur Khotib. Disinilah, puncak keemasan pondok tersebut, dikarenakan banyak santri-santri yang ingin belajar di pondok tersebut. Setelah itu, nama pondok tersebut berganti menjadi Pondok Pesantren Darul Istiqamah. Sesaat setelah K.H. Masruri wafat, tonggak kepemimpinan dialihkan ke menantunya, yakni Kyai Agus Inwan Ali.

Comments
Post a Comment