Menelusuri Asal-Usul Nama Kamulan: Sejarah dan Makna di Balik Nama Kamulan
Nama Kamulan diyakini merupakan perubahan dari kata “Kamulyaan”. Hal ini menggambarkan bahwa saat itu Kamulan merupakan daerah yang subur, penduduknya hidup rukun dan damai, juga terkenal sangat setia pada pemerintah Kerajaan, sehingga Kamulan dianggap sebagai daerah yang mulia (Bahasa Jawa: Mulyo). Seiring dengan perkembangan zaman nama Kamulyan berubah menjadi Kamulan sampai sekarang.
Disamping itu, wilayah Kamulan juga merupakan daerah strategis. Kondisi geografis yang berkontur kasar (dikelilingi pegunungan) kehidupan masyarakatnya rukun dan damai, serta terkenal setia terhadap raja yang memerintah. Terbukti ketika perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Medang Kamulan dari Bhumi Mataram ke Bhumi Tamwlang (Tamblangan Malang sebagai pangkalannya dimana ketika kekuasaannya ini besar dan kuat dia membuka pangkalan baru di daerah Watugaluh (Jombang) sebagaimana informasi dari prasasti Turyyan) akibat Maha Pralaya, masyarakat Kamulan membantu Mpu Sindok untuk mempersiapkan persenjataan, dan juga saat terjadi pralaya di Kerajaan Kediri saat Prabu Kertajaya bertahta masyarakat Kamulan juga setia melindungi Raja, bahkan ikut maju ke medan perang untuk menumpas pemberontak Kamulan merupakan daerah yang sangat terkenal kala itu. Sebagai bukti keberadaan Kamulan kala itu, nama Kamulan telah diabadikan dan tertulis di beberapa prasasti, antara lain:
Prasasti Baru
Prasasti Baru dikeluarkan oleh Maharaja Medang Kamulan yaitu Prabu Airlangga pada tanggal 28 April 1030 M yang berisi mengenai Anugerah Sima Perdikan untuk penduduk Baru (sekarang Desa Baruharjo, Durenan, Trenggalek, Jawa Timur). Prasasti ini ditemukan di Simpang Surabaya pada tahun 1913 dalam bentuk batu andesit, kemudian dipelajari oleh Brandes. Saat ini prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor registrasi D-16.
Dalam naskah Prasasti Baru terdapat tulisan yang mengisahkan bahwa pengukuhan anugrah sima perdikan kepada Desa Baruharjo, hal ini diwarnai dengan adanya saran dari beberapa penasehat yaitu Samgat Landayan Rarai Mpu Bama dan Samgat Lucem Rarai Pu Manuritan agar Airlangga dapat mewujudkan janjinya ketika bermalam di Desa Baruharjo bahwasannya mereka akan dijadikan sima perdikan. Pada tulisan naskah inilah nama Kamulan sudah diabadikan. (Buku “Sejarah Desa Kamulan”)
Prasasti Kamalagyan
Prasasti Kamalagyan dikeluarkan oleh Prabu Airlangga pada bulan Kartika tahun 959 Saka atau 10 November 1037. Saat ini Prasasti Kamalagyan tersimpan di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Prasasti yang terbuat dari batu kali ini atau batu andesit ini memiliki ukuran panjang 115 cm, ketebalan 28 cm, dan tinggi 215 cm. Prasasti ini ditulis dengan menggunakan Bahasa Jawa Kuno, yang berisi tentang dibangunnya sebuah bendungan (Dam) di Wringin Sapta oleh Raja Airlangga. Nama Kamulan diketahui telah ada sejak zaman Airlangga. Tertulis pada bait 8 dan 9. Isi prasasti-nya berbunyi “Gyan punyahetu tan swartha, kahaywaknanin thani sapasuk hilir lasun palinjwan, sijanatyesan panjigantin, talan, dacapankah, pangkaja, tka rin sima parasima, kala, kalagyan, thani jumput, vihara cah” penggalan bait kedelapan. dan “la, kamulan parhyanan, parapatapan, makamukya bhuktyan, ran hyan dharmma rin icanbhawana manaran i surapura, samankana brehnikan thani katahanan kadedetan cariknya denikan kanten tmahan benawan amgat ri wa” penggalan bait kesembilan.
Prasasti Kamulan
Prasasti Kamulan ditemukan di perdikan Kamulan (sekarang Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur) yang dibuat pada 1194 M atau 11-16 Saka. Prasasti Kamulan dikeluarkan oleh Raja Sarmeswara Tri Krama
Wataranindtya Srengga Lancana Dikwi Tunggadewa atau yang lebih dikenal dengan nama Raja Kertajaya. Prasasti ini berisi tentang pengukuhan Sima Perdikan Kamulan. Peresmian Linggapala (prasasti batu) dan daerah sima tersebut bertepatan tanggal 13 bulan keenam, badrawada, tahun 1116 Saka, atau pada hari Rabu Kliwon, 31 Agustus 1194 M. Semua isi prasasti ditulis menggunakan bahasa Jawa Kuno.Saat ini, prasasti tersebut tersimpan dengan baik di Pendhapa Manggala Praja Nugraha, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Prasasti Waringin Pitu
Prasasti Waringin Pitu adalah prasasti ber-angka tahun 1447 Masehi yang mengisahkan mengenai sistem pemerintahan dan birokrasi yang dijalankan oleh Kerajaan Majapahit pada massa itu. Isi pokok prasasti adalah penetapan atau pengukuhan daerah Waringin Pitu sebagai dharma perdikan kerajaan bernama Rajasakusumapura karena di daerah ini terdapat tempat pendarmaan Sri Paduka Parameswara Kertawardhana, ayah Sri Maharaja Hayam Wuruk yang wafat pada tahun 1386 M.
Zaman Pra Perdikan Kamulan berakhir setelah Kamulan memperoleh anugerah Sima Perdikan atau swatantara dari Prabu Kertajaya, yang dikukuhkan dalam Prasasti Kamulan. Sima Perdikan merupakan hak kebebasan tanah tanpa dipungut biaya pajak. Dimana sebelum memperoleh Sima Perdikan penduduk suatu daerah bertanggung jawab kepada Raja, setelah tanah tersebut ditetapkan menjadi Sima Perdikan maka mereka tidak bertanggung jawab kepada Raja lagi melainkan bertanggung jawab kepada kepala Sima.
TIM PENGABDIAN MASYARAKAT KEARSIPAN & INFORMASI DIGITAL FAKULTAS VOKASI UNIVERSITAS AIRLANGGA MENELUSURI ASAL-USUL NAMA KAMULAN MELALUI WAWANCARA & EKSPLORASI
Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah ketika tim berkesempatan mewawancarai Pak Yono, penulis buku "Sejarah Desa Kamulan". Pak Yono, sebagai peneliti lokal yang mendalami sejarah desa ini, berbagi wawasan yang sangat berharga mengenai asal-usul nama Kamulan serta perjalanan panjang desa tersebut dalam berbagai periode sejarah. Ia menjelaskan bagaimana Kamulan tidak hanya sebagai sebuah nama, tetapi juga simbol dari tradisi, nilai-nilai, dan identitas masyarakat yang hidup di sana.
Dalam wawancara tersebut, Pak Yono memberikan gambaran yang kaya mengenai peristiwa-peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi terbentuknya Kamulan, termasuk asal mula nama Kamulan, pengaruh kekuatan politik dan sosial pada masa lampau, serta bagaimana budaya dan adat istiadat setempat terus diwariskan dari generasi ke generasi. Penjelasan dari Pak Yono menjadi kunci penting bagi tim dalam memahami konteks sejarah Kamulan secara menyeluruh.
Melalui wawancara dan eksplorasi ini, tim tidak hanya memperoleh informasi berharga yang belum banyak diketahui masyarakat luas, tetapi juga mendokumentasikan sejarah ini secara digital. Dengan cara ini, diharapkan bahwa sejarah dan budaya Kamulan dapat terus dilestarikan dan diakses oleh generasi mendatang, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Langkah ini juga sejalan dengan upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya lokal melalui media digital, yang relevan dengan perkembangan zaman.





Comments
Post a Comment